#Kejutanuntukistri Part2
***
Setelah 5 bulan kejadian Musibah yang menimpa keluarga kami, aku melihat Zahra, menjadi berubah yang menurutku dirinya semakin aneh.
"Zahra, Mas mau bicara."
Dengan nada lembut dan harap.
"Iya, Mas ada apa ?." Jawabnya dengan nada lebih rendah.
Membuatku menjadi merasa heran apa yang terjadi dengan Zahra, karena sebelumnya dia begitu marah denganku dan tidak jarang ucapanya sering tidak terkontrol dan akhir-akhir ini berubah menjadi begitu dingin denganku.
"Zahra,...Zahra masih marah dengan kejadian ini semua ?, Mas minta maaf sekali lagi zahra, karena sudah membuat kamu dan anak-anak kita menjadi tidak memiliki rumah, dan sekarang harus numpang di rumah orang".
Ku ucapkan itu semua dengan perasaan sesal yang begitu dalam.
Hutang bank itu telah menjadikan rumahku dan keluarga kecilku harus merelakan untuk di jual, demi terbebas dari tekanan debt collector yang selalu datang kerumah untuk menagih hutangku.
Dengan suara yang begitu lembut, ia berbicara.
"Mas tidak perlu minta maaf, seharusnya akulah yang meminta maaf kepada mas karena sikapku yang selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas, maafkan Zahra mas,".
Mendengar ucapanya membuat aku merasa takut ia akan meninggalkanku karena aku tidak memiliki apa-apa dan bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa lepas dari bantuan kursi roda.
"Zahra, Mas mau bertanya sesuatu".
"Iyah, Mas".
"Apakah zahra akan meninggalkan mas ?, melihat keadaan mas yang seperti ini, yang tidak bisa membahagiakan kamu bahkan kini mas hanya seorang yang menyusahkan dan membuat beban".
belum sempat istrinya menjawab kedua anaknya memanggilnya.
"Maaa.!!, Mama.!!!, Ayoook berangkat nanti Hamid dan Aisyah terlamat".
"Maaf mas, Zahra harus antar anak-anak berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum mas,".
Seolah-olah ia enggan menjawab pertanyaanku.
"Iya,.... Wa'alaikumsalam hati-hati Zahra".
Selang beberapa menit Pak Wahab pun datang kerumah, dan mengajak ku untuk ikut pengajian di Masjid di desa sebelah.
"Maaf Pak Wahab, saya bukan tidak ingin ikut bersama pak Wahap hanya saja keadaan saya yang kurang memungkinkan untuk berangkat",
"Mas Agus, InsyaAllah saya bantu mas jika mas beralasan karena mas menggunakan kursi roda, bagaimana bisa ikut mas ?". Dengan sedikit maksa.
Rasanya tidak ada lagi alasan bagi ku untuk tidak ikut bersama pak Wahap.
"Terimakasih pak, kalo begitu saya siap-siap pak"
Pak Wahap mendorong kursi roda saya, dan kami di sepanjang perjalanan saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman hidup.
di tengah-tengah cerita Pak Wahab ini menyinggung masalah Istri saya tentu membuat saya merasa sedikit terkejut.
"Maaf Pak Wahab, Apakah Istri saya sering datang kerumah Bapak?" dengan rasa penuh tanda tanya.
"Iya Mas Agus, Sering"
Fikirankupun mulai mencurigai Pak Wahab karena melihat perubahan Zahra, yang semakin hari semakin dingin kepadaku apakah mungkin.
Perasaan ini berkecambuk di dalam hati.
Karena selama 2 bulan ini aku tinggal di tempat kami yang baru dan rumah kami itu berdekatan dengan Rumah pak Wahab hanya beda 2 Rumah, aku tidak pernah melihat istrinya sama sekali, bahkan saat menyapu halaman itupun yang sering aku lihat Pak Wahab sendiri.
"Mas Agus ?" ia mungulangi sampai tiga kali memanggil nama ku
"iya Pak Wahab, Maaf Pak".
"Mas Agus, kok ngelamun ?"
"tidak pak, he he" sembari tertawa kecil.
"Alhamdulillah sudah sampai,Mas Agus"
Saat mata ini tertuju di sebuah bangunan yang begitu megah dengan ornamen-ornamen ala timur tengah dan melihat jamah-jamaah yang begitu banyak dengan berbakaian berwana putih.
Perasaan inipun seolah pemandangan Nostalgia, dimana aku ingat saat sholat Id tahun lalu. Nostalgia karena aku mungkin sangat jarang sekalai datang ke Masjid, dan terakhir datang ke masjid itu waktu sholat Idhul fitri satu tahun yang lalu, bahkan sholat Jum'atpun aku tidak pernah.
..
Malam yang begitu dingin karena hujan yang begitu lebat, angin yang begitu kencang dan Petir yang begitu menggelegar, membuat aku terbangun dari tidurku, saat aku terbangun ku takmelihat istriku berada disebelahku, kekhawatiranku dan kecurigaangu mulai beradu di otakku.
"Zahra,..Zahra !!.". Panggilku
Tidak ada jawaban sama sekali
akupun mencarinya dengan merangkak untuk mendatangi kursi rodaku.
Aku melihat kekamar Hamid, dan Aisyah, dengan pelan aku buka pintu kamarnya, aku tidak melihat istriku berada di dalam.
Kecemasanku semakin menjadi.
Aku mencarinya kembali ke kamar mandi dan dapur, namun tidak ketemukan juga. Melihat jam masih jam 3 malam dan Di luar juga hujan, angin dan petir
membuatku semakin tidak tenang.
Di sisilain aku begitu khawatir yang begitu dalam namun di sisi lain aku juga curiga apakah dia kerumah Pak Wahap..
Kubuka Pintu Rumah dan kulihat hujan yang begitu derasnya, berbicara dalam hati apakah aku harus kerumah pak Wahap di jam segini dan dalam keadaan seperti ini, andai Istriku tidak ada dirumahnya, bagaimana aku memberi alasan kepada Pak Wahab. Aku takut dia tersinggung.
"Ooooh kenapa ini semua harus terjadi padaku, akankah aku kehilangan istriku sebagaimana aku harus kehilangan rumahku karena Hutangku yang tidak bisa aku bayar" Air matanku mulai berjatuhan sembari metutup pintu rumah dan menuju kekamar Hamid dan Aisyah.
"Zahra,,Zahra,, engkau pergi kemana, setega itukah engkau meninggalkanku dan anak-anak kita dan dalam kondisi aku yang seperti ini".
Suara isak tangisku semakin takbisa tertahan sembari aku memandangi wajah hamid dan Aisyah.
-Bersambung-
*hayo-tebak kira-kira si zahra ada dimana ????
Link Part 1
***
Setelah 5 bulan kejadian Musibah yang menimpa keluarga kami, aku melihat Zahra, menjadi berubah yang menurutku dirinya semakin aneh.
"Zahra, Mas mau bicara."
Dengan nada lembut dan harap.
"Iya, Mas ada apa ?." Jawabnya dengan nada lebih rendah.
Membuatku menjadi merasa heran apa yang terjadi dengan Zahra, karena sebelumnya dia begitu marah denganku dan tidak jarang ucapanya sering tidak terkontrol dan akhir-akhir ini berubah menjadi begitu dingin denganku.
"Zahra,...Zahra masih marah dengan kejadian ini semua ?, Mas minta maaf sekali lagi zahra, karena sudah membuat kamu dan anak-anak kita menjadi tidak memiliki rumah, dan sekarang harus numpang di rumah orang".
Ku ucapkan itu semua dengan perasaan sesal yang begitu dalam.
Hutang bank itu telah menjadikan rumahku dan keluarga kecilku harus merelakan untuk di jual, demi terbebas dari tekanan debt collector yang selalu datang kerumah untuk menagih hutangku.
Dengan suara yang begitu lembut, ia berbicara.
"Mas tidak perlu minta maaf, seharusnya akulah yang meminta maaf kepada mas karena sikapku yang selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas, maafkan Zahra mas,".
Mendengar ucapanya membuat aku merasa takut ia akan meninggalkanku karena aku tidak memiliki apa-apa dan bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa lepas dari bantuan kursi roda.
"Zahra, Mas mau bertanya sesuatu".
"Iyah, Mas".
"Apakah zahra akan meninggalkan mas ?, melihat keadaan mas yang seperti ini, yang tidak bisa membahagiakan kamu bahkan kini mas hanya seorang yang menyusahkan dan membuat beban".
belum sempat istrinya menjawab kedua anaknya memanggilnya.
"Maaa.!!, Mama.!!!, Ayoook berangkat nanti Hamid dan Aisyah terlamat".
"Maaf mas, Zahra harus antar anak-anak berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum mas,".
Seolah-olah ia enggan menjawab pertanyaanku.
"Iya,.... Wa'alaikumsalam hati-hati Zahra".
Selang beberapa menit Pak Wahab pun datang kerumah, dan mengajak ku untuk ikut pengajian di Masjid di desa sebelah.
"Maaf Pak Wahab, saya bukan tidak ingin ikut bersama pak Wahap hanya saja keadaan saya yang kurang memungkinkan untuk berangkat",
"Mas Agus, InsyaAllah saya bantu mas jika mas beralasan karena mas menggunakan kursi roda, bagaimana bisa ikut mas ?". Dengan sedikit maksa.
Rasanya tidak ada lagi alasan bagi ku untuk tidak ikut bersama pak Wahap.
"Terimakasih pak, kalo begitu saya siap-siap pak"
Pak Wahap mendorong kursi roda saya, dan kami di sepanjang perjalanan saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman hidup.
di tengah-tengah cerita Pak Wahab ini menyinggung masalah Istri saya tentu membuat saya merasa sedikit terkejut.
"Maaf Pak Wahab, Apakah Istri saya sering datang kerumah Bapak?" dengan rasa penuh tanda tanya.
"Iya Mas Agus, Sering"
Fikirankupun mulai mencurigai Pak Wahab karena melihat perubahan Zahra, yang semakin hari semakin dingin kepadaku apakah mungkin.
Perasaan ini berkecambuk di dalam hati.
Karena selama 2 bulan ini aku tinggal di tempat kami yang baru dan rumah kami itu berdekatan dengan Rumah pak Wahab hanya beda 2 Rumah, aku tidak pernah melihat istrinya sama sekali, bahkan saat menyapu halaman itupun yang sering aku lihat Pak Wahab sendiri.
"Mas Agus ?" ia mungulangi sampai tiga kali memanggil nama ku
"iya Pak Wahab, Maaf Pak".
"Mas Agus, kok ngelamun ?"
"tidak pak, he he" sembari tertawa kecil.
"Alhamdulillah sudah sampai,Mas Agus"
Saat mata ini tertuju di sebuah bangunan yang begitu megah dengan ornamen-ornamen ala timur tengah dan melihat jamah-jamaah yang begitu banyak dengan berbakaian berwana putih.
Perasaan inipun seolah pemandangan Nostalgia, dimana aku ingat saat sholat Id tahun lalu. Nostalgia karena aku mungkin sangat jarang sekalai datang ke Masjid, dan terakhir datang ke masjid itu waktu sholat Idhul fitri satu tahun yang lalu, bahkan sholat Jum'atpun aku tidak pernah.
..
Malam yang begitu dingin karena hujan yang begitu lebat, angin yang begitu kencang dan Petir yang begitu menggelegar, membuat aku terbangun dari tidurku, saat aku terbangun ku takmelihat istriku berada disebelahku, kekhawatiranku dan kecurigaangu mulai beradu di otakku.
"Zahra,..Zahra !!.". Panggilku
Tidak ada jawaban sama sekali
akupun mencarinya dengan merangkak untuk mendatangi kursi rodaku.
Aku melihat kekamar Hamid, dan Aisyah, dengan pelan aku buka pintu kamarnya, aku tidak melihat istriku berada di dalam.
Kecemasanku semakin menjadi.
Aku mencarinya kembali ke kamar mandi dan dapur, namun tidak ketemukan juga. Melihat jam masih jam 3 malam dan Di luar juga hujan, angin dan petir
membuatku semakin tidak tenang.
Di sisilain aku begitu khawatir yang begitu dalam namun di sisi lain aku juga curiga apakah dia kerumah Pak Wahap..
Kubuka Pintu Rumah dan kulihat hujan yang begitu derasnya, berbicara dalam hati apakah aku harus kerumah pak Wahap di jam segini dan dalam keadaan seperti ini, andai Istriku tidak ada dirumahnya, bagaimana aku memberi alasan kepada Pak Wahab. Aku takut dia tersinggung.
"Ooooh kenapa ini semua harus terjadi padaku, akankah aku kehilangan istriku sebagaimana aku harus kehilangan rumahku karena Hutangku yang tidak bisa aku bayar" Air matanku mulai berjatuhan sembari metutup pintu rumah dan menuju kekamar Hamid dan Aisyah.
"Zahra,,Zahra,, engkau pergi kemana, setega itukah engkau meninggalkanku dan anak-anak kita dan dalam kondisi aku yang seperti ini".
Suara isak tangisku semakin takbisa tertahan sembari aku memandangi wajah hamid dan Aisyah.
-Bersambung-
*hayo-tebak kira-kira si zahra ada dimana ????
Link Part 1
Tags:
bahasa cinta
