"Mas,, Kamu kenapa tidak terus terang ??
kalo sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab !!,"
tatapan matanya tajam tertuju ke arah Agus.
"Zahra" dengan nada lembut
"Maafkan Mas, bukan mas tidak ingin terus terang namun mas saat itu berfikir jika mas bicarakan ini semua kepadamu, Mas takut kamu tidak mengizinkan"
"Jelas Tidak Aku IZINKAN!,"
"Maka dari itu mas tidak cerita, mas hanya ingin memberikan kebehagiaan kepadamu dan kepada anak-anak kita"
"Terus sekarang apa yang terjadi mas ??" dengan nada kesal
"sekarang mas itu bukan memberikan kebahagiaan tapi memberikan kesusahan, Mas sadar tidak Sih?"
suaminya tertunduk
"Berfikirlah mas.???"
"semua hutang yang mas pinjam itu tidak sedikit jumlahnya 100 JT mas ???, kita punya apa untuk membayar itu ??" air matanya mulai menetes membasahi pipi
Semua ini berawal dari Reza,
ia menawariku bisnis yang begitu mengiurkan , ia menceritakan tentang keuntungan yang begitu besar, sampai-sampai akal sehatkupun tidak bisa berfikir rasional sehingga aku dengan cepat langsung menyetujui untuk ikut begabung dengan bisnis yang dia tawarkan.
aku diam-diam tanpa sepengetahuan istriku aku gadaikan sertifikat rumah.
ternyata setelah 2 bulan Rezapun tidak memberi kabar tentang bisnis yang dia dulu janjikan dalam 2 bulan uang 100 JT kan menjadi 500 JT,
saat itu fikiranku mulai gelisah taktentu arah.
soalnya aku harus selalu membayar angsuran bank sekitar 5 JT/bulan dan gajiku hanya 3 juta dan yang 2 Jt aku meminjam dari usaha Istriku dengan alasan aku ingin membantu keperluan keluargaku
dan istriku itupun tidak terlalu mencurigaiku tentang maksudku.
bulan pertama aku masih merasa aman dan bulan kedua ini adalah bulan dimana siReza menjanjikan keuntungan itu, dan akupun berfikir jika dapat 500 JT aku langsung menutup hutangku di BANK dan aku kembalikan uang istriku 2JT dan aku akan memberikan ia hadiah Mobil ,
namun hari telah berganti belum saja si Reza itu datang.
kegelisahan ini membuatku menghilangkan konsentrasiku di kantor hingga beberapa kali aku harus merevisi laporanku dan tidak terlepas beberapa kali teguran dari atasanku..
Seminggu waktu yang telah di janjikan pun telah terlewati dan aku berinisiatif akan mendatangi rumah Reza.
setiba di rumah kediaman reza, perasaan mulai sedikit waswas, aahk akupun tepis fikiranku dengan berhusnuzon. mungkin itu pembantu Si Reza sedang menyapu halaman.
Soalnya terakhir kalia aku kerumahnya Reza, ia hanya tinggal sendirian..
"Permisi Buk, Rezanya ada ?,"
"Reza, Reza Siapa mas ?,"
detak jantungkupun mulai hampir copot namunlagi-lagi perasanku aku tepis dengan berfikiran baik
"Emm itulooh buk Reza yang punya rumah ini, masak ibuk tidak tau,?" sambil aku ceritakan ciri-cirinya belum selesai aku berbicara tiba-tiba ibuk itu pun mengatakan lagi
"Maaf Mas ini rumah 2 bulan yg lalu sudah saya beli" dan yang punya rumah kemarin itu namanya Pak Farid"
pikiranku mulai berkecambuk dan mata ini tiba-tiba merasa gelap dan tubuh inipun merasa lemassekali
"Mas-mas kenapa,, kok mau pingsan,, Mas sakit ? tanya Ibu-ibu tadi
akupun tidak menghiraukannya dengan tubuh sempoyongan aku hidupkan motor ku dan berjalan menuju rumah.
di perjalanan aku mengalami kecelakaan sehingga motor ku rusak dan kakiku mengalami retak tulang.
aku tidak sadarkan diri 2 hari dan aku juga harus di rawat selama 2 minggu di rumah sakit, dan akhirnya istriku tau saat Depcolektor itu mendatangi rumah kami,
"Zahra, Mas Minta ma'af"
"bukan maaf mas, tapi bagaimana membayar hutang itu ? Istrimu ini hanya penjual lotek mas,"
kemarin mas minjam uang 2 JT itu uang anak-anak mas yg aku sengaja sisihkan untuk keperluan mereka karena sebentar lagi mas kan tau, si Aisyah mau TK 0besar dan si Hamid naik kelas 2 , terus di tambah lagi aku harus membayar hutang Bank mas ???"
Isak tangisnya semakin dalam sembari memeluk kedua anaknya
-Bersambung-
kalo sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab !!,"
tatapan matanya tajam tertuju ke arah Agus.
"Zahra" dengan nada lembut
"Maafkan Mas, bukan mas tidak ingin terus terang namun mas saat itu berfikir jika mas bicarakan ini semua kepadamu, Mas takut kamu tidak mengizinkan"
"Jelas Tidak Aku IZINKAN!,"
"Maka dari itu mas tidak cerita, mas hanya ingin memberikan kebehagiaan kepadamu dan kepada anak-anak kita"
"Terus sekarang apa yang terjadi mas ??" dengan nada kesal
"sekarang mas itu bukan memberikan kebahagiaan tapi memberikan kesusahan, Mas sadar tidak Sih?"
suaminya tertunduk
"Berfikirlah mas.???"
"semua hutang yang mas pinjam itu tidak sedikit jumlahnya 100 JT mas ???, kita punya apa untuk membayar itu ??" air matanya mulai menetes membasahi pipi
Semua ini berawal dari Reza,
ia menawariku bisnis yang begitu mengiurkan , ia menceritakan tentang keuntungan yang begitu besar, sampai-sampai akal sehatkupun tidak bisa berfikir rasional sehingga aku dengan cepat langsung menyetujui untuk ikut begabung dengan bisnis yang dia tawarkan.
aku diam-diam tanpa sepengetahuan istriku aku gadaikan sertifikat rumah.
ternyata setelah 2 bulan Rezapun tidak memberi kabar tentang bisnis yang dia dulu janjikan dalam 2 bulan uang 100 JT kan menjadi 500 JT,
saat itu fikiranku mulai gelisah taktentu arah.
soalnya aku harus selalu membayar angsuran bank sekitar 5 JT/bulan dan gajiku hanya 3 juta dan yang 2 Jt aku meminjam dari usaha Istriku dengan alasan aku ingin membantu keperluan keluargaku
dan istriku itupun tidak terlalu mencurigaiku tentang maksudku.
bulan pertama aku masih merasa aman dan bulan kedua ini adalah bulan dimana siReza menjanjikan keuntungan itu, dan akupun berfikir jika dapat 500 JT aku langsung menutup hutangku di BANK dan aku kembalikan uang istriku 2JT dan aku akan memberikan ia hadiah Mobil ,
namun hari telah berganti belum saja si Reza itu datang.
kegelisahan ini membuatku menghilangkan konsentrasiku di kantor hingga beberapa kali aku harus merevisi laporanku dan tidak terlepas beberapa kali teguran dari atasanku..
Seminggu waktu yang telah di janjikan pun telah terlewati dan aku berinisiatif akan mendatangi rumah Reza.
setiba di rumah kediaman reza, perasaan mulai sedikit waswas, aahk akupun tepis fikiranku dengan berhusnuzon. mungkin itu pembantu Si Reza sedang menyapu halaman.
Soalnya terakhir kalia aku kerumahnya Reza, ia hanya tinggal sendirian..
"Permisi Buk, Rezanya ada ?,"
"Reza, Reza Siapa mas ?,"
detak jantungkupun mulai hampir copot namunlagi-lagi perasanku aku tepis dengan berfikiran baik
"Emm itulooh buk Reza yang punya rumah ini, masak ibuk tidak tau,?" sambil aku ceritakan ciri-cirinya belum selesai aku berbicara tiba-tiba ibuk itu pun mengatakan lagi
"Maaf Mas ini rumah 2 bulan yg lalu sudah saya beli" dan yang punya rumah kemarin itu namanya Pak Farid"
pikiranku mulai berkecambuk dan mata ini tiba-tiba merasa gelap dan tubuh inipun merasa lemassekali
"Mas-mas kenapa,, kok mau pingsan,, Mas sakit ? tanya Ibu-ibu tadi
akupun tidak menghiraukannya dengan tubuh sempoyongan aku hidupkan motor ku dan berjalan menuju rumah.
di perjalanan aku mengalami kecelakaan sehingga motor ku rusak dan kakiku mengalami retak tulang.
aku tidak sadarkan diri 2 hari dan aku juga harus di rawat selama 2 minggu di rumah sakit, dan akhirnya istriku tau saat Depcolektor itu mendatangi rumah kami,
"bukan maaf mas, tapi bagaimana membayar hutang itu ? Istrimu ini hanya penjual lotek mas,"
kemarin mas minjam uang 2 JT itu uang anak-anak mas yg aku sengaja sisihkan untuk keperluan mereka karena sebentar lagi mas kan tau, si Aisyah mau TK 0besar dan si Hamid naik kelas 2 , terus di tambah lagi aku harus membayar hutang Bank mas ???"
Isak tangisnya semakin dalam sembari memeluk kedua anaknya
-Bersambung-
Tags:
bahasa cinta
