GALAU, PARA MAHASISWA INI NEKAT TINGGALKAN KAMPUS



GALAU, PARA MAHASISWA INI NEKAT TINGGALKAN KAMPUS _ Hy gaes, udah lama banget nih saya vakum nggak nulis blog lagi. Tapi kali ini, saya akan menuliskan tentang cerita nyata mahasiswi yang nekat meninggalkan kampusnya demi cintanya. Namun gaes, cinta yang kita maksud bukan cinta sembarang cinta. Tapi cinta yang di dasari dengan rasa peduli dan kasih sayang antar sesama. Uniknya, demi mewujudkan rasa cinta ini, sekelompok mahasiswa dan mahasiswi ini nekat memacu motornya menelusuri desa-desa demi “ngapel”.

GALAU, PARA MAHASISWA INI NEKAT TINGGALKAN KAMPUS


Eits! Jangan salah sangka dulu gaes. Ngapel yang kita maksud adalah “ngasih pelajaran” alias memberikan pelajaran yang bermanfaat. Bahasa lainnya itu ya relawan alias sukarelawan. Eh, tapi kenapa mereka mau ngelakuin perjalanan jauh ke desa-desa ya?

Ok gaes. Pada awalnya karena mereka ini “galau” tingkat dewa. Begitu bahasa gaulnya. Mereka galau karena melihat kondisi anak-anak pedesaan di Teluk Kenidai memerlukan perhatian dan sentuhan edukasi. Terutama soal kebersihan dan kesehatan. Dengan inisiatif bersama, mereka yang “notabene” adalah mahasiswa UIR dan LDF alias lembaga dakwah fakultas keguruan dari kampus yang sama, melakukan pengedukasian secara masif dan tersetruktur, memilih "meninggalkan kampus" beberapa jam untuk kegiatan ini. Tentunya mereka nggak sendiri gaes. Ada sukarelawan lainnya yang juga mengambil peran penting. Diantaranya adalah kerjasama dengan yayasan Pedar Pagi yang sudah menjadi relawan di desa sebelah sebelumnya selama setahun. Aksi mereka ini juga di sambut suka cita oleh para mahasiswa yang ingin bergabung memberikan manfaat kepada masyarakat. Yah, itung-itung nambah amal jariyah dan belajar bermasyarakatlah.  Wow, keren banget gak sih mereka ini?

GALAU, PARA MAHASISWA INI NEKAT TINGGALKAN KAMPUS


Lalu, bagaimana sih antusiasme dari masyarakat disana?

Jawabannya sangat menginspirasi gaes. Mereka nggak Cuma antusias, tapi juga sangat mendukung. Hal ini terbukti dengan bagaiaman cara masyarakat menyambut rombongan relawan ini. Kepala desa, kepemudaan, dan masyarakat yang mendukung, serta anak-anak yang baru dinyalakan TOA sudah berebut berkumpul. Kok bisa gitu ya? Terang saja gaes, karena masyarakat disana sangat menyukai belajar. Baik tua maupun muda. Bahkan anak-anak.

GALAU, PARA MAHASISWA INI NEKAT TINGGALKAN KAMPUS



Oiya gaes, sedikit mengenal desa Teluk Kenidai nggak masalah ya kan? Hemmm. Jadi gaes, Teluk Kenidai ini merupakan desa yang berada di Kecamatan Tambang. Tepanya di kabupaten Kampar. Nah, mayoritas penduduknya beragama islam dan berkomunikasi dalam kesehariannya menggunakan bahasa ocu. Bahasa yang digunakan oleh  suku Ocu yang umumnya menyebar di daerah Kampar. Secara garis bahasa ocu sangat mirip dengan bahasa minang. Namun memiliki perbedaan. 

Penasaran bagaimana mereka melakukan pengedukasian? berikut ada cuplikan videonya. cekidot gaes!


berikut galeri lainnya :





Previous Post Next Post